Semenjak anak saya masuk sekolah dasar, ada satu hal yang pelan-pelan saya sadari: dia sudah punya dunianya sendiri. Padahal baru kelas 1 SD. Rasanya baru kemarin saya yang menentukan hampir semua hal untuk dia, sekarang dia punya jadwal, punya teman, punya kesibukan, dan punya prioritasnya sendiri. Harinya sekarang penuh. Ada sekolah, ada mengaji, ada PR yang harus dikerjakan, ada waktu bermain dengan teman-temannya di kompleks, dan tentu saja ada Roblox — game kesukaannya yang kalau tidak dibatasi bisa memakan waktu sore sampai malam. Saya dan istri juga mulai memberi dia beberapa tugas kecil di rumah seperti merapikan tempat tidur dan…
TL;DR Ada kebiasaan yang akhir-akhir ini sering saya lakukan: memandangi newsletter yang masuk ke inbox. Bukan isi emailnya yang menarik perhatian saya, melainkan desainnya. Banyak yang tampak sederhana, tidak penuh warna, tidak dipenuhi gambar, tipografinya bersih, dan spacing antar elemennya nyaman. Secara keseluruhan terasa profesional. Saya lalu berpikir, kalau mereka bisa mengirim email seperti itu, kenapa saya tidak? Ide Ini Berawal dari Kebutuhan Sendiri Saya bukan sedang mencari ide proyek baru. Saya hanya ingin mengirim email yang tampil lebih rapi saat berkomunikasi dengan client. Bayangan saya sederhana: buat template HTML sekali, lalu pakai lagi setiap kali dibutuhkan, tanpa pindah ke…