TL;DR Saya pikir setelah bisa kirim email HTML yang rapi dari Gmail, workflow outreach saya sudah “cukup”. Ternyata belum. Yang kurang justru bagian paling membosankan: follow-up. Pesan pertama sudah dikirim. Client belum balas. Dua hari kemudian saya lupa. Seminggu kemudian saya malu membuka thread yang sama Ditambah, untuk case saya follow-up message adalah kunci dalam email-marketing Itulah titik di mana saya memutuskan: kalau saya butuh follow-up otomatis, saya akan coba bangun sendiri. Kenapa Saya Tidak Langsung Pakai Tool Berbayar? Saya tahu ada tool-tool follow-up email yang sudah keren namun selain mahal terasa berlebihan untuk skala saya yang kebutuhannya masih minim.…
Semenjak anak saya masuk sekolah dasar, ada satu hal yang pelan-pelan saya sadari: dia sudah punya dunianya sendiri. Padahal baru kelas 1 SD. Rasanya baru kemarin saya yang menentukan hampir semua hal untuk dia, sekarang dia punya jadwal, punya teman, punya kesibukan, dan punya prioritasnya sendiri. Harinya sekarang penuh. Ada sekolah, ada mengaji, ada PR yang harus dikerjakan, ada waktu bermain dengan teman-temannya di kompleks, dan tentu saja ada Roblox — game kesukaannya yang kalau tidak dibatasi bisa memakan waktu sore sampai malam. Saya dan istri juga mulai memberi dia beberapa tugas kecil di rumah seperti merapikan tempat tidur dan…
Proyek sampingan yang lahir dari kebiasaan sehari-hari. Sejak berlangganan Notion, saya memanfaatkannya untuk membuat database pencatatan cashflow. Seiring waktu, saya ingin pengalaman yang lebih cepat dan terasa “native” di ponsel — tanpa harus membuka Notion setiap kali ingin mencatat pemasukan atau pengeluaran. Masalahnya Saya sudah punya sistem pencatatan di Notion yang cukup membantu. Tapi untuk pencatatan harian, alurnya masih terasa berat: Saya ingin sesuatu yang jauh lebih sederhana: Buka app → catat → lihat ringkasan → selesai. Mengapa solusi yang ada kurang pas Saya mencoba beberapa aplikasi pencatat keuangan yang sudah ada. Banyak yang bagus, tapi tidak cocok dengan cara…
TL;DR Banyak developer langsung memakai Vite, Webpack, atau starter kit saat mulai dengan Tailwind CSS. Pendekatan itu memang modern — tapi tidak selalu dibutuhkan. Sebagian besar proyek WordPress yang saya kerjakan adalah custom theme berbasis PHP. Strukturnya sederhana. Saya tidak butuh Hot Module Replacement atau development server yang rumit. Yang saya butuhkan: compile CSS yang cepat, watch file yang andal, dan livereload agar iterasi desain terasa ringan. Solusi yang saya pakai: Tailwind CSS CLI untuk build CSS, Prepros untuk hal-hal di luar Tailwind. Kombinasi ini sudah saya gunakan di berbagai proyek dan sampai hari ini masih jadi workflow utama saya.…