AI agent Telegram Upwork
AI Development

Saya Hubungkan Telegram, Upwork MCP, dan Obsidian dengan Hermes untuk Buat AI Agent Sendiri

Sekarang saya belum mau bayar VPS. Yang saya mau masih sederhana aja: chat dari Telegram, agent-nya jalan di laptop Ubuntu, baca vault Obsidian, dan bisa bantu screening job Upwork. Kedengarannya rapi. Di hari pertama? Jujur, nggak semuanya rapi.

Kenapa Saya Mulai Melakukan Ini

Sebagai freelancer web, kerjaan harian saya itu-itu aja: cek Upwork, nulis proposal, catat agenda, kadang outreach email. Sebagian besar catatannya sudah ada di Obsidian vault, dan vault itu juga nyambung ke GitHub.

Saya nggak butuh AI yang jago ngobrol. Saya butuh AI yang bisa bantu kerja nyata:

  • screening open job Upwork
  • drafting proposal sesuai parameter saya
  • menyusun daily agenda dari file vault
  • nanti outreach website potensial

Stack yang saya pilih di awal:

  • laptop sendiri
  • Telegram sebagai remote control
  • Gemini free tier sebagai otak
  • Hermes Agent sebagai runtime
  • Upwork MCP sebagai pintu ke akun Upwork
  • Obsidian vault sebagai source of truth

Di atas kertas, kombinasi ini paling masuk akal buat mulai tanpa biaya bulanan.

Apa yang Saya Kira Akan Mudah

Saya kira bagian tersulit cuma “pasang Hermes, masukkan API key, selesai”.

Ternyata saya underestimate beberapa hal:

  1. command di BotFather bukan otomatis jadi command di Hermes
  2. free tier API cepat habis kalau agent baca banyak file + panggil tool berkali-kali
  3. cron butuh “home channel” Telegram dulu sebelum hasil bisa dikirim

Hal-hal kecil ini yang bikin setup terasa lebih panjang dari bayangan saya.


Bagaimana Saya Menyambungkan Semuanya

Alur yang akhirnya jalan di sistem saya kira-kira begini:

  1. Saya chat bot Telegram (/upwork, /agenda, atau /outreach)
  2. Hermes gateway di laptop nerima perintah
  3. Skill terkait jalan
  4. Agent baca file vault / panggil Upwork MCP
  5. Hasil ringkas dikirim balik ke Telegram

Untuk Upwork, draft dikirim ke Telegram, terus saya copy manual. Itu batas aman yang saya pilih dari awal.

File-file yang jadi “otak aturan” saya:

  • parameter apply Upwork
  • referensi proposal high-value lama
  • portfolio
  • template outreach
  • daily agenda bulan berjalan

Jadi agentnya nggak menebak-nebak. Dia baca referensi yang sudah saya pakai bertahun-tahun.


Apa yang Sempat Bikin Pusing

1) BotFather vs command Hermes

Saya sudah set command di BotFather:

  • /upwork
  • /outreach
  • /agenda

Lalu Telegram balas: unknown command.

Belajarannya simpel: menu BotFather cuma UI. Hermes punya daftar command sendiri. Nama skill harus cocok. Skill upwork-screening nggak otomatis jadi /upwork sebelum saya samakan namanya.

2) Pairing code bukan bot token

Saya sempat mikir token BotFather itu pairing code. Ternyata beda.

  • Bot token → identitas bot di .env
  • Pairing code → kode pendek setelah saya DM bot pertama kali

Tanpa pairing / allowlist, bot bisa diam aja atau nolak pesan.

3) OAuth Upwork terpisah

MCP Upwork di Cursor sudah login. Hermes tetap minta login sendiri (hermes mcp login upwork). Session-nya nggak saling pakai.

4) Free tier terasa “besar” sampai dipakai agent

Saya lihat limit 250.000 token dan merasa aman. Satu giliran agent — baca file + MCP — bisa makan puluhan ribu token input. Ditambah retry pas kena 429, kuota harian cepat abis.

Ini momen paling jujur di project ini: free tier oke buat coba-coba, tapi pola agent + tool loop jauh lebih boros daripada chat biasa.

Yang saya kira vs yang terjadi:

  • Saya kira set command di BotFather = langsung jalan → kenyataannya Hermes punya command sendiri
  • Saya kira login MCP di Cursor dipakai semua → kenyataannya Hermes perlu OAuth terpisah
  • Saya kira 250k token terasa longgar → kenyataannya 1 task agent bisa sangat boros
  • Saya kira cron otomatis kirim hasil → kenyataannya perlu /sethome dulu

Apa yang Akhirnya Membantu

Beberapa keputusan praktis yang beneran ngebantu:

Pakai /new sebelum task baru

Konteks lama mahal. /new lalu /agenda atau /upwork jauh lebih hemat daripada chat panjang yang numpuk.

Pisahkan skill per perintah

Saya punya skill terpisah:

  • /upwork untuk screening + draft proposal
  • /agenda untuk daily agenda Obsidian
  • /outreach untuk lead dari business map URL

Satu perintah, satu pekerjaan. Lebih gampang di-debug.

Fallback model, jangan andalkan satu free tier

Setelah Gemini sering 429, saya set rantai:

  1. Hermes free (Nous) sebagai primary
  2. Gemini free sebagai fallback
  3. DeepSeek (top-up kecil) sebagai fallback berikutnya

Setiap pesan baru mulai lagi dari primary. Jadi sistemnya “muter” saat salah satu kena limit, tanpa saya ganti model manual tiap jam.

Tetap human-in-the-loop untuk apply

Draft proposal boleh otomatis. Submit ke Upwork tetap manual. Itu nurunin risiko salah apply, dan kualitas tetap di tangan saya.


Apakah Saya Akan Melakukan Ini Lagi?

Ya — tapi dengan ekspektasi yang lebih realistis.

Kalau tujuanmu cuma “main-main chat AI”, stack ini overkill.
Kalau tujuanmu punya remote control buat kerja freelance harian, ini worth it.

Yang akan saya lakukan selanjutnya:

  • rapikan skill supaya lebih hemat token
  • nyalain cron Upwork cuma saat laptop aktif dan saya siap review draft
  • lanjutkan outreach + agenda sebagai kebiasaan harian, bukan eksperimen sekali jalan

Kalau kamu freelancer yang sudah punya vault Obsidian dan rutin di Upwork, bangun agent sendiri nggak harus langsung ke VPS. Laptop + Telegram cukup buat fase pertama — asalkan kamu siap berantakan di hari setup.

Frequently Asked Questions

Apakah harus pakai VPS dari awal?

Nggak. Saya mulai dari laptop Ubuntu sendiri. Trade-off-nya: agent mati kalau laptop mati. Buat fase awal, itu masih oke.

Apakah Upwork MCP bisa auto-apply job?

Secara teknis ada jalur write, tapi saya sengaja stop di draft ke Telegram. Konfirmasi manual tetap penting.

Apakah free tier Gemini cukup untuk agent harian?

Cukup buat uji coba pendek. Kalau workflow-nya banyak tool call, cepat kena limit. Siapkan fallback atau budget kecil.

Apakah command di BotFather langsung jalan di Hermes?

Nggak. BotFather cuma menu. Hermes kenali command dari registry/skill-nya sendiri.

Apakah login MCP di Cursor dipakai Hermes?

Nggak. Hermes perlu OAuth/login terpisah buat server MCP yang sama.

Apa bedanya bot token dan pairing code?

Bot token dari BotFather buat .env. Pairing code muncul saat kamu pertama kali DM bot, terus perlu di-approve di terminal.

Kesimpulan

Saya nggak lagi bangun “AI sempurna”. Saya bangun remote control buat kerjaan yang sebelumnya saya kerjain manual: screening Upwork, drafting proposal, nyusun agenda, dan nyiapin outreach.

Yang paling berharga dari proses ini bukan daftar tool-nya. Melainkan belajar di mana asumsi saya salah — soal command, soal auth, soal kuota, dan soal batas aman saat agent nyentuh akun freelance nyata.

Kalau kamu mau coba mirip ini, mulai dari satu command aja. Biarin satu workflow beneran jalan dulu sebelum nambah yang kedua.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *